Izinkan Kami Mengucap Maaf, Karena Mungkin Ini Adalah Ramadhan Ini Adalah Ramadhan Terakhir Kita Bersama Mereka

| May 21, 2016 | 0 Comments

Untuk kita yang selalu sering menyimpan ruang hati paling lapang untuk orang tua dan senantisa merasa bahagia untuk status kita sebagai anak. Mungkin selama ini kita terlalu asik dengan jalan kita sendiri, kita terlalu asik sendiri bersama teman-teman dan gadget-gadget kita yang membuat tiap detik kita teralihkan dari pandangan dunia kita yang sebenarnya lebih indah bersama keluarga kecil yang kita miliki.

1. Untuk mereka yang senantiasa mengirim kecupan lewat Tuhan melalui doa-doa di setiap malamnya untuk kita, Kenapa kita tak bisa taklukan kesibukan itu?

Entah apa sebutan kita untuk mereka, Ayah-Ibu, Mapa-Papa, Ibu-Bapak, Papi-Mami, Abah-Umi, atau lainnya. Hanya saja kedua kata itu menjadi sangat jarang terucap lewat bibir, karena mungkin selama ini kita terlalu disibukkan dengan dunia kita sendiri yang membuat kitapun memiliki jarak dengan mereka

Mungkin saja dalam hati kecil mereka, mereka merindukan cerita kita hari ini, cerita kita waktu lalu, atau cita-cita yang kita inginkan di masa depan. Mereka salalu menimpan rindu yang mungkin tidak dapat diungkapkan nya kepada kita karena ada batasan waktu kita yang sebagian besar tersita oleh kesenangan kita sendiri mereka hanya dapat mengirim kecupan lewat Tuhan melalui doa-doa nya untuk kita, putra-putrinya.

Ramadhan kali ini, ketika kesibukan telah mengepung dan wajah-wajah orangtua terlalu sukar untuk didefinisikan, ada baiknya mengintip sedikit ke masa lalu. Membuka kembali kenangan-kenangan masa kecil, saat kita masih terlalu dini untuk berpuasa, sholat, mengaji lalu perlahan-lahan Bapak akan menawarkan hadiah sebagai imbalan.

“Bapak akan beri adek hadiah kalau puasa adek bulan ini penuh dan sholatnya gak boleh bolong”

Lalu Ibu akan menyiapkan menu favorit untuk berbuka puasa, sekadar pelengkap hadiah dari Bapak. Kalau kita masih merasa momen itu sangat berharga, berarti saatnya kita merangkul masa lalu itu dan membawanya ke dunia yang sekarang. Bukan apanya, dunia lain mungkin akan hadir dengan cerita yang berbeda: tahun depan, pun esok mungkin di antara kita ada yang pergi duluan: ke Surga.

2. Ketika kita mulai lupa bahwa ketetapan itu akan datang, dan semua tanya akan terjawab oleh waktu.

Untuk Bapak
untuk ayah
Untuk Bapak via http://www.hemensaglik.com/slayt/unlu-babalar-ve-cocuklari?pg=6

Untuk bapak yang selalu ada untuk kita, Bapak yang hari ini masih sangat sehat dan semoga selalu begitu, semangat dan sesungging senyum salalu ada dalam harinya. Bapak, yang puasanya hari ini masih lancar serta ibadah-ibadah lainnya yang tak pernah ia tinggalkan mungkin pada waktu lain tubuh kekar itu akan begitu rapuh dan semangat senyum itu akan jadi sebuah kenangan dan semua ibadah-ibadah itu akan menjadi bekal untuk memasuki surga dan bertemu dengan-Nya.

Sedang kami putra-putrinya hanya akan meratap sedih dan merapalkan doa sebanyak-banyaknya agar bisa dipertemukan dengan keadaan yang indah. Atau, bisa jadi tangisan itu adalah anak-anak penyesalan dari kami putra-putri yang kadang mengabaikan mereka, terlalu sombong dan mengandalkan waktu. Melupakan bahwa ketetapan itu akan datang, waktu pula yang akan menjawab semua tanya.

Untuk Bapak yang selalu peduli, kutitip semua kenangan kita pada-Nya. Entah Tuhan lebih dulu memetik Bapak atau kami, kuharap momen Ramadhan ini menjadi kasih paling sayang serta kenangan yang paling kasih untuk kita. Untuk Bapak yang telah berpindah tempat lebih dulu, kurapalkan doa berharap segala amal putra-putrinya menjadi penyejuk serta penenang di sana, tempat yang tak pernah kudeteksi namun kuresapi.

3. Akan tiada pesan antar makanan dari surga untuk ku! Untuk itu, akan kunikmati setiap suap masakanmu dan aku berharap bahwa masakan ini akan senantiasa abadi.

Untuk ibu yang sampai hari ini masih juga rajin memasak, mungkin suatu saat nanti masakan itu akan menjadi masakan yang akan kurindukan. Tak ada pesan antar makanan dari surga kan Bu? untuk itu, akan ku nikmati dengan lahap masakanmu dan berharap masakan ibu akan senantiasa abadi.

Aku tak terlalu suka realita yang bisa membawaku ke dalam dunia paling sedih, aku tak terlalu suka menangisi kepergian hingga momen kebersamaan kita mungkin akan kusimpan dalam lacrimal gland, kubekukan air mata sebisaku hingga aku tetap tegar jika suatu saat nanti aku terbangun tanpa Ibu.

Mungkin sebaiknya bukan menyiapkan air mata itu untuk Ibu, dengan menatap wajah dan menciumi punggung tangan Ibu setiap hari mungkin akan menjadi obat paling ajaib yang bisa mencegah tangisanku kelak. Aku hanya menghindari penyesalan itu, Bu. Hari ini, setelah bayangan itu mondar-mandir di kepala, kuputuskan untuk meminimalisir kesalahan-kesalahan itu. Berharap ada ruang maaf untuk putra-putrimu, sebelum semuanya terlambat.

4. Kali ini akan kumaksimalkan Untuk Tuhanku dan Orang Tuaku sebagai Wakil-Nya di dunia ini.

sebelum semuanya terlambat

Elderly hand and caregiver

Elderly hand and caregiver


sebelum semuanya terlambat via http://www.huffingtonpost.ca/natalie-strouth/caregiver-tips_b_4555079.html

Pada kesimpulan selanjutnya, saat bayangan untuk kehilangan mereka telah redup, saat itu pula bayangan lain tentang diriku semakin memuncak. Aku yang dipanggil terlebih dahulu, dan itu melegakan.

Pikiran itu masih menjalar sampai sekarang, pikiran di masa kecil tentang “Lebih baik aku yang mati dulu daripada Bapak-Ibu. Aku belum siap kehilangan”. Kadang ketika pikiran itu datang lagi, kusandarkan diriku pada-Nya. Tuhan yang lebih mengenal hamba-Nya, serta hikmah telah dirancang begitu apik oleh-Nya, tinggal bagaimana manusia-takpenuhsyukur- ini membacanya.

Aku benar-benar tak pernah siap untuk panggilan itu, namun Tuhan memberikan bulan penuh berkah untuk hamba-Nya. Semoga Ramadhan kali ini tak ada kesia-siaan di dalamnya, akan kumaksimalkan sebagai bekal bertemu dengan-Nya pun sebagai pembahagia untuk kedua orang tuaku yang kelak meninggalkanku, selamanya.

5. Sampai suatu saat bila kita telah terpisah, hanya doa yang dapat kita sampaikan.

Hanya doa. Hanya itu. Di dunia, saat kami pulang ke rumah, sambutan hangat akan selalu terasa. Akankah kelak di akhirat ketika kami pulang masih bisa berjumpa dengan kalian?

Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya.

Amiiin.

Tags: ,

Category: Lain-Lain

Leave a Reply