Sepucuk Catatan dari Hati Seorang Hamba yang Merindukan Ramadhan

| May 23, 2016 | 0 Comments

Tuhan, bolehkah aku membuat sebuah pengakuan atas semua keresahan yang kurasakan ini?

Kedatangan bulan Ramadhan sudah didepan mata namun aku masih saja merasakan kehampaan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang ditunggu umat muslim di seluruh penjuru dunia. Sebuah “iming-iming” yang menggiurkan, Kau janjikan lipat ganda pahala, Kau hadiahkan surga, dan Mengharamkann api neraka bagi orang yang beriman agar bisa mendekatkan diri pada-Mu. Bagaimana denganku? Mengapa aku belum merasakan nikmatnya Ramadhan-Mu, Tuhan? Apa yang salah denganku? Tunggu dulu, coba aku telusuri kembali perjalananku sebelum Ramadhan kali ini datang kembali.

1. Ketika jutaan orang menyambut Ramadhan dengan suka cita, sedang aku merasa biasa saja.

Hampir setiap orang menyaksikan dengan saksama hasil sidang itsbat yang memutuskan awal Ramadhan jatuh pada 18 Juni 2015. Semua bersorak riang, aku hanya berbisik dalam hati, “Oke, cukup tahu. Lusa puasa.” Bukan karena aku tak senang, tapi aku masih menganggapnya hanya sekadar kegiatan rutin belaka yang selalu begitu-begitu saja acara tiap tahunnya.

2.Waktu sahur merupakan saat yang mustajab untuk rampal doa, namun aku tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Ya, aku tahu betul, salah satu waktu yang baik untuk berdoa agar dikabulkan adalah saat sahur. Kulihat papa, mama, abang, dan adikku nampak khidmat duduk lama dalam tahajudnya, larut dalam doa yang mereka panjatkan. Aku? Hanya bangun saat semua hidangan telah tersedia tanpa tergerak untuk melaksanakan 2 rakaat apalagi merangkai kata untuk berdoa.

Kutuntaskan makan dengan segera agar dapat kembali ke pembaringanku saja. Aku kalah dengan rasa kantuk dan malas yang mendera.

3. Ketika lantunan ayat suci bergema dimana-mana tapi itu hanya terdengar masuk dan keluar di telingaku saja.

Anak-anak di masjid, surau, dan musala dekat rumah melantunkan firmanMu dengan indah dan terdengar syahdu tak kenal waktu, siang, malam, sore, bahkan selepas subuh. Suara – suara itu sesungguhnya sangat kurindu. Tapi kesyahduan itu hanya mampir di telingaku tak sempat hinggap dalam hatiku. Oh Tuhan, kenapa aku ini? Apa yang salah denganku? Jangankan membaca kitabMu, aku justru larut dalam layar gawai yang menyajikan informasi yang aku anggap lebih menarik dari ayat-ayatMu.

4. Terawih memang selalu aku lakukan, tapi tak lebih hanya sekedar memenuhi tuntutan

Nuansa Ramadhan sangat terasa saat malam tiba, semua bergegas ke musala saat azan isya tiba, tak terkecuali seluruh anggota keluarga. Papa, mama, abang, dan adik melangkahkan kaki untuk salat Tarawih, aku mengikuti mereka dengan langkah tertatih. Kutunaikan tarawih bukan karena niat dari dalam hati, tapi karena tak enak hati. Takbir, ruku’, sujud, sampai salam kulakukan berkali-kali tanpa mengena di hati. Atau memang aku tak punya hati?

5. Tangan-tangan semakin mudah terulur untuk beramal sedangkan hanya bibirku saja yang masih mau menarikan ujungnya untuk sekadar memberikan amal senyuman.

Ramadhan dijadikan ladang amal bagi seluruh manusia karena mereka ingin pahala berlipat ganda. Kotak amal di masjid-masjid, panti asuhan, bahkan di warung makan banyak terisi uang berbagai pecahan. Lagi-lagi aku hanya bisa menyaksikan tanpa terketuk untuk turut beramal. Bukan karena aku pelit, tapi aku berpikir bukankah sedekah tak harus menunggu Ramadhan? Sambil tersenyum aku berlalu melewati kotak amal yang aku “campakan”.

Tuhan, inilah pengakuanku padaMu walaupun aku tahu tanpa aku mengaku pun Kau sudah tahu lebih dulu. Ini aku, hambaMu yang belum dapat merasakan indahnya RamadhanMu, yang masih saja belum bisa bercumbu berdua denganMu lewat sujud panjang dan bermunajat padaMu, dan yang belum mampu untuk bercengkerama lama melalui surat cinta dariMu.

6. Aku terlalu naif jika masih aku bertanya mengapa?
ampuni aku ya Rabb…
taubat_1
ampuni aku ya Rabb… via http://www.google.co.id

karena sesungguhnya aku sudah tahu jawabnya: mata ini yang tidak bisa menjaga pandangannya,
telinga ini yang masih mendengar apa yang bukan jadi haknya,
bibir dan lidah ini yang tak mampu menjaga perkataannya,
tangan ini yang kerap menyentuh apa yang tak patut disentuhnya,
kaki ini yang berjalan pada tempat yang tak semestinya,
dan hati ini yang selalu saja dipenuhi berbagai prasangka.
Intinya: aku banyak dosa,
inilah yang membuatku merasa hampa di tengah orang merasakan suka cita Ramadhan.

7. Mungkin Aku adalah satu-satunya manusia yang belum bisa memanfaatkan moment yang sangat mustajab yang hanya terjadi dalam satu tahun sekali ini untuk mendapatkan cintaMu, mengeruk pahala dengan beribadah kepadaMu, dan berlomba untuk menggapai surgaMu.

Namun, Engkau pasti tahu Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, masih terbersit harapanku untuk menuntaskan bulan istimewa ini dengan lebih baik, lebih ikhlas, lebih khusyuk , dan lebih dekat denganMu. Dekap aku Tuhan, dekap aku lebih erat. Izinkan aku mencumbui indahnya RamadhanMu, izinkan aku pula untuk menjadikan bulan ini sebagai penyucian diri atas dosa yang telah aku perbuat selama ini, sebagai awal baru untuk memperbaiki tabiat, dan hati yang sering kali iri dengki, sebagai cerminan diri bahwa setiap hari selalu ada hal yang patut disyukuri, sebagai sarana silaturahim dan meminta maaf pada orang-orang yang hatinya pernah kusakiti, dan sebagai kesempatan baik untukku membalas budi baik mereka yang telah membantu dan menyayangiku. Izinkan dan perkenankan aku, Tuhan karena umurku belum tentu sampai pada bulan penuh keberkahan ini di tahun mendatang.

Terima kasih, atas waktuMu mendengarkan pengakuan seorang hamba yang merindu indahnya Ramadhan.

HambaMu yang tak layak mendamba surgaMu, hanya mengharap sepercik ridhaMu.

Tags: ,

Category: Lain-Lain

Leave a Reply